
Jakarta – Kopi selama ini identik sebagai minuman yang membantu mengusir kantuk dan meningkatkan konsentrasi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi kopi dalam jumlah tertentu juga berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah.
Sejumlah studi memang telah mengaitkan kopi dengan berbagai manfaat kesehatan. Kini, perhatian peneliti juga tertuju pada pengaruh minuman berkafein tersebut terhadap kesehatan otak, terutama dalam menjaga fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.
Mengutip SciTechDaily, sebuah penelitian jangka panjang yang berlangsung hingga 43 tahun menemukan hubungan antara konsumsi kopi berkafein dan penurunan risiko demensia. Berikut temuan utamanya.
1. Kopi menjadi bagian dari pola hidup yang diteliti
Hingga kini belum ada pengobatan yang benar-benar mampu menghentikan perkembangan demensia. Karena itu, para peneliti semakin banyak mempelajari faktor gaya hidup yang berpotensi membantu menurunkan risikonya sebelum gejala muncul.
Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah konsumsi kopi dan teh. Kedua minuman tersebut mengandung senyawa bioaktif seperti kafein dan polifenol yang diduga memiliki efek protektif terhadap otak.
Kandungan tersebut dipercaya membantu mengurangi peradangan sekaligus melindungi sel-sel saraf dari kerusakan yang dapat memicu penurunan fungsi kognitif.
2. Melibatkan lebih dari 130 ribu peserta
Temuan tersebut berasal dari dua penelitian kohort besar, yaitu Nurses’ Health Study (NHS) dan Health Professionals Follow-up Study (HPFS). Kedua studi ini mengikuti pola makan serta kondisi kesehatan peserta selama puluhan tahun.
Selama masa pengamatan hingga 43 tahun, peserta secara berkala melaporkan konsumsi kopi, teh, serta perkembangan kondisi kognitif mereka.
Dari lebih dari 130 ribu responden, sebanyak 11.033 orang didiagnosis mengalami demensia. Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta dengan konsumsi kopi berkafein tertinggi memiliki risiko demensia sekitar 18 persen lebih rendah dibanding mereka yang jarang atau tidak minum kopi.
Selain itu, kelompok peminum kopi juga lebih jarang melaporkan penurunan kemampuan berpikir secara subjektif, yakni 7,8 persen dibandingkan 9,5 persen pada kelompok lainnya. Hasil pengujian fungsi kognitif pun cenderung lebih baik.
3. Kafein diduga berperan penting
Efek serupa juga ditemukan pada konsumsi teh, tetapi tidak terlihat pada kopi tanpa kafein (decaf). Temuan ini membuat peneliti menduga bahwa kafein menjadi salah satu komponen utama yang berkontribusi terhadap perlindungan fungsi otak.
Manfaat paling konsisten terlihat pada peserta yang mengonsumsi sekitar dua hingga tiga cangkir kopi berkafein atau satu hingga dua cangkir teh setiap hari.
Menariknya, penelitian tersebut tidak menemukan hubungan antara konsumsi kafein yang lebih tinggi dengan peningkatan risiko gangguan kognitif. Bahkan, asupan yang lebih banyak masih menunjukkan kecenderungan memberikan efek perlindungan saraf yang serupa.
Peneliti utama, Yu Zhang, juga menjelaskan bahwa manfaat konsumsi kopi dan kafein tampak pada berbagai kelompok peserta, baik yang memiliki risiko genetik tinggi maupun rendah terhadap demensia. Meski demikian, hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi dan belum dapat membuktikan bahwa konsumsi kopi secara langsung menyebabkan penurunan risiko demensia.