
Jakarta – Lalat sering terlihat berjalan-jalan di atas makanan sebelum akhirnya pergi atau menyantapnya. Kebiasaan tersebut ternyata bukan tanpa alasan. Serangga ini memiliki kemampuan unik untuk mendeteksi makanan, bahkan melalui bagian tubuh yang mungkin tidak disangka, yaitu kakinya.
Lalat umumnya tertarik pada aroma makanan manis, buah yang sudah matang, sisa makanan, hingga bahan organik yang mulai membusuk. Namun, keberadaan lalat di sekitar makanan tetap perlu diwaspadai karena tubuhnya dapat membawa mikroorganisme dari berbagai tempat yang sebelumnya didatangi.
Dikutip dari Futura, berikut sejumlah fakta menarik tentang perilaku lalat ketika menemukan makanan.
1. Kaki Lalat Bisa Mendeteksi Rasa
Salah satu kemampuan unik lalat terdapat pada bagian kakinya. Serangga ini memiliki reseptor sensorik yang mampu mendeteksi zat kimia pada permukaan yang diinjaknya.
Dengan kemampuan tersebut, lalat dapat mengetahui apakah suatu permukaan berpotensi menjadi sumber makanan. Itu sebabnya serangga ini kerap berjalan di atas makanan sebelum mulai makan.
Jadi, kaki lalat bukan hanya berfungsi untuk berjalan dan berpindah tempat. Bagian tubuh tersebut juga membantu lalat mengenali makanan yang ditemuinya.
2. Lalat Tidak Mengunyah Makanan
Berbeda dengan manusia, lalat rumah tidak memiliki struktur mulut yang digunakan untuk mengunyah makanan padat. Bagian mulutnya lebih cocok untuk mengisap makanan.
Karena itu, makanan yang masih berbentuk padat perlu diubah menjadi lebih cair terlebih dahulu. Lalat dapat menggunakan cairan pencernaan yang mengandung enzim untuk membantu memecah berbagai komponen makanan.
Setelah makanan menjadi lebih lunak atau cair, lalat kemudian menyedotnya menggunakan bagian mulut yang menyerupai belalai.
Cara tersebut memungkinkan lalat mengonsumsi beragam sumber makanan, mulai dari buah matang dan sisa makanan hingga bahan organik yang mengalami pembusukan.
3. Ada Cairan Pencernaan yang Dikeluarkan ke Makanan
Saat menemukan makanan padat, lalat rumah dapat mengeluarkan cairan pencernaan ke permukaannya. Cairan ini mengandung enzim yang membantu memecah makanan sehingga lebih mudah dikonsumsi.
Proses tersebut kerap disebut sebagai “muntah lalat” karena cairan dikeluarkan dari tubuh sebelum makanan disedot. Meski terdengar menjijikkan, cairan tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari mekanisme pencernaan lalat dan tidak sama dengan muntahan pada mamalia.
Setelah makanan mengalami proses tersebut, lalat dapat menyerapnya melalui belalai.
4. Lalat Berpotensi Memindahkan Kuman
Masalah lain muncul ketika lalat berpindah dari lingkungan kotor ke makanan. Serangga ini dapat mendatangi tempat sampah, kotoran hewan, serta bahan organik yang membusuk.
Mikroorganisme dari lingkungan tersebut berpotensi menempel pada tubuh maupun kaki lalat. Ketika kemudian mendarat di makanan, sebagian mikroorganisme tersebut dapat ikut berpindah.
Cairan pencernaan yang dikeluarkan ke permukaan makanan juga dapat menjadi salah satu jalur kontaminasi.
Meski begitu, bukan berarti setiap makanan yang sempat dihinggapi lalat pasti langsung menyebabkan penyakit. Risiko kontaminasi dipengaruhi berbagai faktor, termasuk jenis makanan, kondisi lingkungan, serta berapa lama makanan terpapar.
5. Mengapa Lalat Tertarik pada Makanan?
Kemampuan lalat menemukan makanan sangat berkaitan dengan indra penciumannya. Aroma tertentu dapat membantu serangga ini menemukan sumber makanan dari jarak tertentu.
Makanan yang sudah matang, memiliki rasa manis, sisa makanan, dan bahan organik yang mulai membusuk termasuk hal yang dapat menarik perhatian lalat.
Sesampainya di sumber makanan, lalat tidak langsung selalu menyantapnya. Serangga tersebut dapat menggunakan reseptor pada kakinya untuk mendeteksi zat kimia yang terdapat di permukaan.
Hal ini menjelaskan mengapa lalat terkadang tampak berjalan atau menggosokkan kakinya ketika berada di sekitar makanan.
6. Makanan yang Terpapar Lalat Sebaiknya Dilindungi
Lalat yang hanya hinggap sebentar tidak selalu membuat makanan otomatis menjadi berbahaya. Namun, potensi perpindahan mikroorganisme tetap menjadi alasan untuk tidak membiarkan makanan terbuka begitu saja.
Perhatian lebih perlu diberikan pada makanan yang siap disantap, termasuk daging, produk susu, dan berbagai hidangan yang tidak akan dimasak kembali.
Untuk mengurangi risiko kontaminasi, makanan sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup dan tidak dibiarkan terbuka dalam waktu lama. Dengan begitu, makanan dapat lebih terlindungi dari lalat maupun mikroorganisme yang mungkin dibawanya.