
Jakarta – Bebek dikenal sebagai hewan yang sangat akrab dengan air. Meski sering berenang atau bahkan menyelam, bulunya tetap terlihat kering. Kondisi tersebut ternyata bukan tanpa alasan, melainkan berkat mekanisme alami yang dimiliki tubuhnya.
Salah satu rahasia utama terletak pada kelenjar uropigial yang berada di dekat pangkal ekor. Kelenjar ini menghasilkan minyak alami atau preen oil yang kemudian disebarkan ke seluruh permukaan bulu ketika bebek membersihkan tubuhnya. Lapisan minyak tersebut berfungsi sebagai pelindung sehingga air sulit menempel dan meresap ke dalam bulu. Mekanisme serupa juga dimiliki oleh banyak jenis burung.
Bulu Bebek Membantu Tetap Mengapung
Selain tahan air, struktur bulu bebek juga berperan menjaga tubuhnya tetap mengapung. Susunan bulu yang saling mengunci mampu memerangkap udara di antara lapisan-lapisannya sehingga memberikan daya apung tambahan saat berada di permukaan air.
Ketika hendak menyelam untuk mencari makanan, bebek akan merapatkan bulu ke tubuh agar udara yang terperangkap keluar. Setelah selesai menyelam, mereka cukup mengibaskan tubuh sehingga udara kembali masuk ke sela-sela bulu dan membantu tubuh mengapung lagi.
Profesor Teknik Mesin dari Virginia Tech, Jonathan Boreyko, menjelaskan bahwa bulu bebek memiliki pori-pori atau celah berukuran sangat kecil. Saat bebek hanya mengapung di permukaan, tekanan air yang diterima sangat rendah sehingga air hampir tidak dapat menembus lapisan bulu.
Namun, ketika menyelam lebih dalam, tekanan hidrostatik akan meningkat. Meski begitu, banyaknya lapisan bulu yang dimiliki bebek membuat air tetap sulit menembus hingga ke kulit. Kombinasi antara lapisan bulu dan minyak alami inilah yang membuat bulu bebek tidak mudah basah, bahkan setelah sering berada di dalam air.
Fakta Menarik tentang Bebek
Di dunia terdapat sekitar 100 spesies bebek yang mampu beradaptasi di berbagai habitat, mulai dari perairan, daratan, hingga udara. Beberapa jenis bahkan sanggup terbang pada ketinggian sekitar 60 hingga 1.200 meter.
Bebek juga dikenal sebagai hewan sosial yang senang hidup berkelompok. Penelitian yang dilakukan Dr. Victoria de Rijke dari Universitas Middlesex menunjukkan bahwa suara bebek dapat berbeda sesuai lingkungan tempat hidupnya. Bebek yang hidup di kawasan perkotaan, seperti London, cenderung mengeluarkan suara “kwek” yang lebih keras dibandingkan bebek di wilayah pedesaan.
Keunikan lainnya terdapat pada paruh bebek. Organ tersebut memiliki reseptor sentuhan yang mirip dengan ujung jari manusia. Kemampuan ini membantu bebek mendeteksi dan menemukan makanan meski berada di air yang keruh atau berlumpur.