
Jakarta – Kimchi bukan sekadar pelengkap makanan khas Korea dengan rasa asam dan pedas. Makanan hasil fermentasi ini juga mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh, termasuk sistem kekebalan.
Kimchi umumnya dibuat dari sayuran seperti sawi putih dan lobak yang difermentasi bersama cabai, bawang putih, jahe, daun bawang, serta garam. Proses tersebut membuat kimchi memiliki karakter rasa yang khas sekaligus menghasilkan mikroorganisme yang bermanfaat.
Tak heran jika kimchi menjadi bagian dari menu sehari-hari masyarakat Korea. Makanan ini dapat disantap sebagai pendamping nasi, lauk, maupun hidangan daging panggang.
Dikutip dari Times of India, kandungan nutrisi kimchi tidak hanya berasal dari bahan pembuatnya. Proses fermentasi juga memicu perubahan biokimia yang dapat menghasilkan berbagai senyawa dengan potensi manfaat bagi tubuh.
Kandungan kimchi yang mendukung kesehatan
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal Medicine menunjukkan bahwa sejumlah komponen dalam kimchi dapat bekerja secara bersamaan untuk memberikan manfaat kesehatan.
Berikut beberapa kandungan penting yang terdapat di dalam kimchi:
1. Serat
Sayuran yang digunakan sebagai bahan dasar kimchi menyediakan serat. Asupan serat penting untuk membantu menjaga fungsi pencernaan sekaligus mendukung keberadaan bakteri baik di dalam usus.
2. Bakteri asam laktat
Fermentasi menghasilkan bakteri asam laktat secara alami. Keberadaan mikroorganisme tersebut menjadi salah satu karakteristik utama makanan fermentasi seperti kimchi.
3. Vitamin C dan karotenoid
Kimchi juga menyediakan vitamin C serta karotenoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa tersebut membantu tubuh menghadapi stres oksidatif yang dapat merusak sel.
4. Mineral
Sejumlah mineral seperti zat besi dan kalsium terdapat dalam bahan pembuat kimchi. Zat besi diperlukan dalam proses transportasi oksigen dan mendukung berbagai fungsi tubuh, sementara kalsium berperan dalam fungsi sel.
5. Senyawa bioaktif
Bawang putih, jahe, dan cabai memberikan tambahan senyawa bioaktif. Beberapa di antaranya memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba.
Bagaimana kimchi berkaitan dengan sistem imun?
Hubungan antara kimchi dan daya tahan tubuh tidak terlepas dari kondisi saluran pencernaan. Ketika seseorang mengonsumsi makanan fermentasi secara rutin sebagai bagian dari pola makan seimbang, keberagaman mikrobiota usus dapat ikut terjaga.
Mikrobiota usus memiliki hubungan erat dengan sistem kekebalan tubuh. Interaksi antara mikroorganisme di dalam usus dan sel-sel imun membantu mendukung fungsi pertahanan tubuh.
Kandungan antioksidan dalam kimchi juga berpotensi membantu melindungi sel dari stres oksidatif. Sementara itu, zat besi dibutuhkan tubuh agar berbagai fungsi biologis, termasuk fungsi yang berkaitan dengan sistem imun, dapat berjalan dengan baik.
Kimchi juga menghasilkan lingkungan asam selama proses fermentasi. Kondisi tersebut dapat membantu menghambat pertumbuhan sejumlah mikroorganisme yang tidak diinginkan.
Mengapa proses fermentasi penting?
Salah satu keistimewaan kimchi berasal dari proses pembuatannya. Saat sayuran difermentasi, bakteri asam laktat memanfaatkan gula yang terdapat di dalam bahan makanan tersebut.
Proses ini menghasilkan asam organik sehingga tingkat keasaman kimchi meningkat dan pH-nya menurun. Kondisi tersebut membantu mengawetkan makanan sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung mikroorganisme tertentu.
Fermentasi juga dapat mengubah sejumlah komponen dalam bahan makanan menjadi senyawa yang lebih aktif secara biologis. Perubahan tersebut dapat memengaruhi bagaimana berbagai zat berinteraksi dengan tubuh, termasuk pada saluran pencernaan.
Selain itu, proses fermentasi berpotensi mengurangi sejumlah senyawa pengganggu dan menghasilkan komponen yang mendukung fungsi lapisan usus.
Dengan demikian, manfaat kimchi bagi tubuh bukan hanya berasal dari sayurannya. Kombinasi bahan nabati, senyawa bioaktif, serat, serta proses fermentasi membuat kimchi memiliki profil nutrisi yang menarik.
Meski demikian, kimchi umumnya mengandung garam cukup tinggi. Karena itu, konsumsinya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola makan secara keseluruhan agar manfaatnya tetap seimbang.