
Jakarta – Gangguan makan bukan sekadar kebiasaan memilih atau mengatur makanan. Kondisi ini merupakan masalah kesehatan yang dapat berdampak pada tubuh dan kondisi psikologis seseorang. Jika tidak dikenali dan ditangani, beberapa jenis gangguan makan bahkan dapat menimbulkan komplikasi serius.
Masalah ini bisa terjadi pada berbagai kelompok usia. Tanda-tandanya pun tidak selalu mudah dikenali karena sebagian gangguan berkembang secara perlahan. Oleh sebab itu, mengenali pola perilaku dan gejala yang muncul menjadi penting agar seseorang dapat memperoleh bantuan sedini mungkin.
Dikutip dari Ukat, berikut lima jenis gangguan makan beserta karakteristik dan risiko yang perlu diketahui.
1. Binge Eating Disorder
Binge Eating Disorder atau BED ditandai dengan episode makan dalam jumlah sangat banyak dalam waktu relatif singkat, disertai perasaan sulit mengendalikan diri ketika makan.
Setelah episode tersebut, seseorang dapat merasakan malu, bersalah, atau menyesal. Namun, perasaan tersebut tidak selalu membuat perilaku makan berlebihan mudah dihentikan.
BED termasuk gangguan makan yang cukup sering ditemukan. Dalam sumber yang dirujuk, prevalensinya disebut mencapai sekitar 22% dari seluruh kasus gangguan makan.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berkaitan dengan peningkatan berat badan dan risiko obesitas. Risiko masalah kesehatan lain seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung juga dapat meningkat.
2. Anoreksia Nervosa
Berbeda dengan BED, anoreksia nervosa ditandai dengan pembatasan asupan makanan secara ekstrem karena adanya ketakutan yang kuat terhadap kenaikan berat badan.
Penderita dapat tetap merasa dirinya terlalu gemuk meskipun berat badan sebenarnya sudah berada di bawah batas sehat. Untuk menurunkan atau mempertahankan berat badan, seseorang mungkin melakukan diet sangat ketat, olahraga secara berlebihan, atau metode lain yang tidak sehat.
Penyebab anoreksia belum diketahui secara tunggal. Faktor genetik, perubahan hormonal, serta tekanan sosial terkait bentuk tubuh diduga dapat berperan.
Sekitar 8% penyandang gangguan makan disebut mengalami anoreksia dalam studi yang dirujuk. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius karena kekurangan nutrisi berkepanjangan dapat mengganggu fungsi berbagai organ dan dalam kondisi tertentu dapat mengancam jiwa.
3. Bulimia Nervosa
Bulimia nervosa memiliki kemiripan dengan BED karena sama-sama dapat melibatkan episode makan dalam jumlah banyak dan perasaan kehilangan kontrol.
Perbedaannya, setelah makan berlebihan, penderita bulimia biasanya melakukan tindakan kompensasi untuk mencegah kenaikan berat badan. Contohnya adalah memuntahkan makanan dengan sengaja, menggunakan obat pencahar atau diuretik, berpuasa secara ekstrem, maupun melakukan olahraga berlebihan.
Sumber yang dirujuk menyebut sekitar 19% penyandang gangguan makan memenuhi kriteria bulimia.
Jika tidak mendapatkan penanganan, perilaku tersebut dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Kekurangan nutrisi, kerusakan gigi, iritasi pada kerongkongan, serta gangguan keseimbangan elektrolit merupakan beberapa risiko yang dapat muncul.
4. Pica
Pica memiliki karakteristik yang berbeda dari sebagian besar gangguan makan lainnya. Penderitanya memiliki dorongan untuk memakan benda yang sebenarnya bukan makanan.
Benda yang dikonsumsi dapat berupa tanah, es, kertas, kapur, hingga bubuk tertentu. Kondisi ini umumnya perlu berlangsung setidaknya selama satu bulan untuk memenuhi kriteria diagnosis.
Pica lebih sering ditemukan pada anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan disabilitas intelektual.
Dampaknya sangat bergantung pada benda yang tertelan. Jika benda tersebut mengandung zat berbahaya atau sulit dicerna, penderitanya dapat mengalami keracunan, infeksi, penyumbatan saluran pencernaan, maupun komplikasi serius lainnya.
5. Night Eating Syndrome
Night Eating Syndrome atau NES merupakan gangguan yang berkaitan dengan pola makan pada malam hari.
Seseorang dengan kondisi ini dapat mengonsumsi lebih dari seperempat kebutuhan kalorinya setelah waktu makan malam atau terbangun dari tidur untuk makan. Pola tersebut dapat terjadi setidaknya dua kali dalam seminggu.
Dalam sumber yang dirujuk, NES disebut dialami sekitar 1,5% penduduk Amerika. Gangguan ini juga dapat berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, gangguan tidur, serta kekurangan nutrisi tertentu.
Jika terus berlangsung tanpa penanganan, pola makan pada malam hari tersebut dapat mengganggu kesehatan fisik sekaligus kualitas tidur dan kondisi psikologis.
Pentingnya Mengenali Gejala
Kelima kondisi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang ditandai dengan pembatasan makanan ekstrem, makan berlebihan, perilaku kompensasi, konsumsi benda nonmakanan, hingga kebiasaan makan pada malam hari.
Gangguan makan bukan masalah yang sebaiknya dianggap sebagai kurangnya kemauan untuk mengontrol diri. Kondisi ini membutuhkan perhatian dan penanganan yang tepat.
Jika seseorang menunjukkan pola makan yang mengkhawatirkan atau mengalami dampak kesehatan akibat perilaku tersebut, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional dapat membantu mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai.