
Jakarta – Mi instan memang dikenal sebagai makanan praktis yang mudah dibuat kapan saja. Namun, terlalu sering mengonsumsinya perlu diwaspadai karena kandungan garam yang tinggi dapat berdampak pada kesehatan. Bahkan, pola makan tinggi garam disebut berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker lambung.
Mi instan menjadi pilihan banyak orang karena harganya relatif terjangkau, mudah ditemukan, dan memiliki beragam rasa. Di balik kepraktisannya, makanan ini umumnya mengandung sodium atau garam dalam jumlah tinggi, termasuk MSG dan bahan tambahan lainnya.
Dokter onkologi Dr. Tim Tiutan mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kanker perut.
Garam Berlebih Bisa Memengaruhi Lambung
Dokter dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York juga menjelaskan adanya kaitan antara konsumsi garam dalam jumlah tinggi dan kanker lambung.
Asupan garam yang berlebihan dapat mengganggu lapisan pelindung lambung. Kondisi tersebut membuat organ pencernaan menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri Helicobacter pylori atau H. pylori, salah satu faktor yang berkaitan erat dengan kanker lambung.
Dr. Tiutan turut membagikan informasi tersebut melalui media sosialnya. Ia mengingatkan bahwa makanan tinggi garam, termasuk mi instan, sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi.
Berdasarkan penjelasan yang disampaikannya, konsumsi garam berlebihan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung hingga 55%. Risiko tersebut bahkan dapat meningkat lebih jauh ketika seseorang mengalami infeksi H. pylori.
Batasi Asupan Garam Harian
Bukan hanya mi instan, berbagai makanan olahan juga perlu diperhatikan karena dapat menyumbang asupan garam harian. Bacon, ham, sosis, dan produk daging olahan lainnya termasuk makanan yang disarankan untuk tidak dikonsumsi secara berlebihan.
National Health Service (NHS) menganjurkan orang dewasa membatasi konsumsi garam maksimal 6 gram per hari. Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan satu sendok teh.
Dr. Tiutan menekankan bahwa mengurangi garam bukan berarti harus menghilangkannya sepenuhnya dari makanan. Sodium tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jumlah yang terlalu banyak dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan.
Selain dikaitkan dengan kanker lambung, konsumsi garam berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi dan berbagai masalah kesehatan kronis.
Kenali Bakteri H. Pylori
Helicobacter pylori merupakan bakteri yang dapat hidup di dalam lambung. Infeksi bakteri ini cukup umum dan pada sebagian besar kasus tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Meski demikian, H. pylori dapat berkaitan dengan sejumlah masalah pencernaan, seperti tukak lambung, gangguan pencernaan, perut kembung, dan mual.
Keberadaan bakteri tersebut dapat diperiksa melalui sejumlah metode, antara lain pemeriksaan darah, napas, maupun sampel tinja. Jika ditemukan infeksi, kondisi ini dapat ditangani menggunakan antibiotik serta obat-obatan tertentu.
Kombinasi Garam Tinggi dan H. Pylori Perlu Diwaspadai
Hubungan antara konsumsi garam berlebihan dan infeksi H. pylori telah lama menjadi perhatian. Pola makan tinggi garam dapat memperburuk kondisi akibat infeksi tersebut dan turut meningkatkan faktor risiko kanker lambung.
Selain pola makan, kebiasaan merokok juga termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker lambung.
Penelitian yang dimuat dalam British Journal of Cancer turut menemukan bahwa orang yang secara terus-menerus mengonsumsi makanan dengan kadar garam sangat tinggi memiliki risiko kanker perut hingga dua kali lipat.
Gejala Kanker Lambung
Kanker lambung memiliki peluang penanganan yang lebih baik ketika ditemukan pada tahap awal. Berdasarkan data yang dikutip dalam informasi tersebut, sekitar 65% pasien yang didiagnosis pada tahap paling awal dapat bertahan hidup hingga satu dekade.
Sebaliknya, pada pasien yang sudah memasuki stadium empat, angka kelangsungan hidup 10 tahun disebut hanya sekitar satu dari lima pasien.
Karena itu, sejumlah gejala yang berkaitan dengan kanker lambung sebaiknya tidak diabaikan. Keluhan yang dapat muncul antara lain gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, cepat merasa kenyang, perdarahan, hingga ditemukannya darah pada tinja.
Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam seperti mi instan dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga pola makan tetap lebih sehat. Namun, pencegahan kanker tetap perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.