
Jakarta – Operasi penyelamatan korban banjir di China menarik perhatian masyarakat internasional setelah tim penyelamat memanfaatkan jembatan apung portabel untuk mengevakuasi ribuan warga yang terisolasi akibat genangan.
Peralatan tersebut dioperasikan oleh Anneng Construction Group, badan penanggulangan darurat yang memiliki latar belakang sebagai satuan teknik konstruksi militer. Jembatan apung itu dirancang dapat dirakit di atas permukaan air, disambungkan menjadi lintasan yang lebih panjang, serta difungsikan sebagai feri darurat saat proses evakuasi berlangsung.
Media pemerintah China, Xinhua, bahkan menjuluki fasilitas tersebut sebagai “Bahtera Nuh”. Jembatan apung itu disebut mampu mengangkut hingga sekitar 500 penumpang dalam satu kali perjalanan.
Teknologi tersebut digunakan pada Rabu lalu untuk mengevakuasi sekitar 6.000 warga yang terjebak banjir di Kota Guigang, wilayah Guangxi. Operasi penyelamatan dilakukan di tengah tingginya debit air yang menghambat akses transportasi darat.
Rekaman proses evakuasi kemudian dibagikan oleh sejumlah Kedutaan Besar China melalui media sosial sebagai gambaran kemampuan peralatan penyelamatan yang digunakan dalam menghadapi bencana.
Selain memanfaatkan jembatan apung, tim tanggap darurat juga mengerahkan drone pengangkut berkapasitas besar untuk mengirimkan bantuan logistik dan membantu proses penyelamatan. Dukungan udara turut diperkuat dengan pengerahan helikopter pencarian dan evakuasi.
Dilaporkan The Economic Times pada Sabtu (11/7/2026), penggunaan teknologi tersebut menjadi sorotan karena dinilai sebagai pendekatan inovatif dalam operasi penyelamatan berskala besar. Dokumentasi berupa foto dan video yang dirilis otoritas China memperlihatkan koordinasi antartim serta pemanfaatan peralatan teknik modern dalam menghadapi bencana alam.
Respons warganet dari berbagai negara juga ramai menghiasi media sosial. Banyak yang memberikan apresiasi terhadap penggunaan jembatan apung tersebut karena dianggap mampu mempercepat proses evakuasi sekaligus menunjukkan kesiapsiagaan pemerintah China dalam menangani bencana.
Banjir besar yang melanda wilayah tersebut dipicu hujan deras akibat Badai Tropis Maysak pada awal pekan. Curah hujan tinggi menyebabkan Sungai Yu meluap dan memicu banjir di sejumlah daerah.
Dalam penanganan bencana itu, sekitar 8.000 personel diterjunkan ke lapangan. Hingga kini, sekitar 130.000 warga dilaporkan telah berhasil diselamatkan dari kawasan terdampak.
Meski proses evakuasi terus berlangsung, bencana tersebut telah menelan sedikitnya 39 korban jiwa. Sebagian besar korban berada di wilayah Nanning setelah jebolnya bendungan yang memicu banjir bandang dengan dampak cukup besar.